Harapan Baru Dalam Kampanye Ilmu Kebumian di Indonesia

Harapan Baru Dalam Kampanye Ilmu Kebumian di Indonesia

Malam masih sangat muda.

Kumandang adzan Isya baru saja dilantunkan saat rombongan pemateri Talk Show “Mengenal Potensi Gempa dan Likuifaksi di Sekitar Kita” tiba di DeLima Café yang terletak di tengah-tengah kota Mataram.

Talk show yang berlangsung pada Kamis malam, 5 September 2019 itu dihadiri sekitar 30-an peserta dari berbagai kalangan, baik dari masyarakat umum, akademisi hingga praktisi jasa konstruksi.

Acara yang dipandu oleh Aditya Putra, seorang mahasiswa program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram membuka acara dengan penuh semangat. Keluwesan pembawa acara dalam memeriahkan suasana sempat dipuji oleh salah seorang pemateri, yang berharap bahwa para ahli kebumian juga sebaiknya dibekali ilmu komunikasi publik, karena selama ini praktisi ilmu kebumian terkesan kaku dalam menyampaikan keilmuan mereka.

Pemateri malam itu adalah Taufik Wira Buana ST, MT dan Dita Arif Yuwana ST, MT, MA, keduanya merupakan peneliti dari Badan Geologi Bandung. Sejumlah hal yang mengemuka dalam diskusi tersebut antara lain, pentingnya bagi masyarakat untuk mengenal setiap potensi sumber gempa yang ada disekitar mereka.

Selain itu, syarat terjadinya likuifaksi adalah tanah/batuan yg kurang padat, yang mengandung airtanah yang melimpah dan kemudian terkena gempa yang sangat kuat sehingga mengubah fisik tanah/batuan yang semula padat menjadi lumpur.

Poin penting berikutnya juga disampaikan tentang pentingnya pengambilan keputusan oleh pembuat kebijakan dalam membangun wilayahnya didasarkan pada rekomendasi geologi.

Pada sesi tanya jawab, beberapa hal yang mengemuka dari buah pikir audiens menunjukkan bahwa masyarakat mulai peduli dengan ilmu kebumian. Beberapa pertanyaan audiens antara lain mengenai zona-zona rentan bencana khususnya di daerah Lombok Utara, hingga bagaimana mengenali dan mengantisipasi secara sederhana fenomena likuifaksi.

 

Acara berlangsung sekitar 1,5 jam ditutup dengan sesi foto bersama pihak penyelenggara dan para pemateri. Seusai acara, salah seorang pakar komunikasi dari Program Studi Ilmu Komunikasi Mataram Diyah Indiyati S.Sos, M.Si menyampaikan bahwa sangat penting bagi masyarakat, khususnya di daerah rawan bencana untuk mengetahui informasi-informasi kebumian.

Sementara dalam penyampaian informasi keteknikkan atau yang kental nuansa sains kepada publik dibutuhkan strategi yang khusus pula. Publik akan lebih mudah paham apabila istilah yang digunakan merupakan istilah umum dan menghindari jargon ataupun istilah yang hanya dipahami oleh para ilmuwan saja.

Selain itu pendekatan publik menggunakan metode analogi dan metafora juga perlu lebih banyak ditingkatkan agar publik diajak secara otomatis melakukan penalaran dengan perangkat pengetahuan yang dimiliki masing-masing di benak mereka. Semakin dekat analogi dan metafora itu dengan kehidupan keseharian publik, maka informasinya akan lebih mudah dipahami.

Metode pendekatan ini akan jauh lebih efektif dibanding pendekatan visual berupa gambar maupun video yang sifatnya masih pengetahuan teknis. Penggunaan media audio-visual tetap dapat digunakan namun kembali lagi harus dikemas dalam simbol-simbol yang mudah dimaknai oleh masyarakat awam.

Kegiatan-kegiatan dialog sains-publik seperti ini sangat dibutuhkan dan selayaknya diperbanyak untuk menjangkau masyarakat yang tinggal jauh dari pusat informasi sehingga masyarakat semakin teredukasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *